Hai namaku Kartika Hijriani. Aku lahir di Jakarta tapi gak pernah jadi penduduk kota metropolitan ini. Aku hobi menulis, baca buku, menyanyi, mendengarkan musik, masak, olahraga dan masih banyak lagi. di rumahku, semua orang suka baca buku. sebab sejak kecil kami selalu di belikan buku cerita warna warni dan dibacakan oleh mama atau bapak. Kalau ingat momen itu rasanya asyik banget. Bapak dengan telaten membacakan cerita-cerita bergambar itu sampai kami berimajinasi seolah-olah gambar itu hidup dan mondar mandir dihadapan kami. Hidup kami selalu sederhana. Tidak pernah ada pesta pora di rumah karena bapakku tidak suka pesta. Bapak lebih suka mengisi waktu luangnya dengan mengajak anak-anaknya ke kebun. Kebetulan dibelakang rumah kami ada kebun yang lumayan luas untuk dijelajahi. Disana kami belajar menanam sayur mayur, buah dan juga tanaman obat. selain menanam, kami juga diajari untuk merawat tanamansupaya dia tumbuh subur dan bermanfaat buat kita semua. Sejak kecil kami tinggal di Lospalos, Timor-Timur. pada masa itu, masih bagian dari negara kesatuan republik indonesia (NKRI). Sebelum tinggal di rumah dengan halaman luas ini, kami pernah menumpang tinggal di tempat saudara. Di sana kami dipinjamkan lahan untuk membangun gubuk kecil. Listrik pun gratis. gubuk sederhana berlantaikan tanah bukan semen. ada tempat cuci piring di luar yang bapak bikin dari bambu. diantara kayu penahannya bapak sulap jadi ayunan untuk kami. Kadang saat mama atau kakakku sedang cuci piring, kami sengaja main ayunan dibawahnya sambil basah-basahan. Wow kalau ingat hari-hari itu sungguh luar biasa. ada saja hal-hal kecil yang bikin kita merasa kaya dan bersyukur. salah satu alasannya adalah ayunan unik itu. Lokasinya sampai saat ini masih bernama sama, kampung kartini 1. tempat tinggal kami berdekatan dengan markas TNI AD Yonif 745. Aku sempat bersekolah TK di dalam kompleks markas TNI tersebut. Kami selalu berangkat berempat. teman-temanku diantaranya bernama Noldy seorang anak laki-laki dari Ayah yang berasal dari Flores kalo gak salah dan ibunya dari Jawa, entah jawa bagian mana. Ully temanku yang imut dan berkulit putih khas wanita jawa, kedua orang tuanya asli jawa. Lalu Wawan, temanku yang satu ini keluarganya berasal dari Bali. Setiap hari aku selalu menyusul Noldy baru kemudian kami berjalan menuju pertigaan dimana ully dan wawan sudah menunggu kami. Aku tak berani berangkat sendirian. Jadi otomatis aku menangis kalau Noldy sudah berangkat duluan. Sebenarnya aku sebelumnya pernah sekolah TK di kota Malang dan punya pengalaman tersesat lupa jalan menuju sekolah. Sepertinya itu kejadian yang sempat bikin aku trauma untuk berangkat sekolah sendirian. Padahal kalau berangkat bareng teman-teman aku hafal jalan menuju sekolah. Tapi kalau aku harus jalan sendirian menuju sekolah, rasa cemas itu selalu datang menghantuiku. Pernah suatu hari kejadian, aku ditinggal jalan duluan sama Noldy dan nangislah aku sambil berjalan pulang. Aku merenggek agar mama mau mengantarku. Mama yang sedang mengurus adik bayi awalnya keberatan untuk mengantarku karena mama masih belum mandi. Aku pun menangis lebih kencang, akhirnya mama pun menurut. Mama bersedia mengantar dengan syarat hanya sampai gerbang asrama. Tidak semua orang boleh masuk area kompi, ada pos jaga di pintu masuk dan semua tamu yang masuk wajib berpaikan rapi bersepatu baru diijinkan masuk. begitu yang aku dengar dari mama. Mama menggandengku sampai depan pos jaga, namun aku kembali berulah. minta diantar sampai depan sekolah. setelah mama berusaha membujuk, akhirnya aku beranikan masuk sendiri. tapi baru setengah jalan aku sudah berbalik sambil menangis minta diantar sampe depan TK. dengan alasan aku takut salah jalan. Om tentara yang sedang bertugas jaga akhirnya mengijinkan mama dengan sendal jepitnya masuk ke dalam wilayah kompi. Sepertinya ia tak sampai hati melihatku menangis sesenggukan. Seingatku itu pertama dan terakhir kalinya mama mengantarku ke TK itu. Tak lama kemudian, seorang teman kantor bapak mampir ke rumah dan menawarkan untuk pindah ke rumah dinas yang sedang ia tempati karena ia akan segera pindah. Di belakang rumah dinas itu ada sebidang tanah miliknya yang ia sarankan pada bapak untuk dibeli.    

Komentar